Tata Kota Oh Tata Kota

Jalanan di Jakarta semakin carut-marut dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak (terutama peningkatan yang signifikan dari roda dua), Pedagang kaki lima yang seenaknya menaruh lapak dagangannya di pinggir jalan hingga memenuhi 1 ruas jalan, pembangunan Mall yang tidak tertata sampai pembangunan ruas jalan BusWay.

satu sisi saya melihat itu sebagai peningkatan pembangunan, tetapi karena perencanaan yang tidak tertata saya melihatnya sebagai penghancuran.

sebagai contoh mari kita lihat pembangunan mall senayan city dan Plaza Semanggi. Pada Senayan City, mall yang begitu megah untuk jalan memutarnya Senayan City “membunuh” sedikit ruas jalur hijau yang tersisa dan memotong jalur umum yang dahulu tidak terdapat traffic light, sehingga menambah keruwetan jalan walaupun telah dibantu satpam untuk mengatur jalan dan pada Plaza Semanggi yang terjadi lebih parah lagi, untuk masuk Plaza Semanggi harus memotong jalur bawah dari sudirman ke Gatot Subroto, sehingga kemacetan yang sejak dulu sudah parah semakin parah, padahal dari kedua contoh tersebut, sebelum melakukan pembangunan sebuah mall pihak pengembang harus membuat perencanaan bersama Dinas Tata Kota dan tentunya bayar upeti untuk izin dan bla-blanya. Tetapi dari pembangunan mall tersebut ada yang sedikit membuat lega untuk pembangunan Pondok Indah Mall yang membuat underpass dan pada Grand Indonesia yang menambah dan mengembangkan jalan dari yang sudah ada.

di sisi lain keruwetan jalan ditambah pula oleh pembangunan Jalur Busway. untuk Ide nya, terus terang saya sangat mendukung ide busway ini karena solusi dari pemecahan kemacetan jakarta, tetapi ketika sudah masuk pada ide perencanaan dan pengembangan, pembangunannya terkesan yang penting jadi dulu atau “gimana entar“, sehingga tidak menjadi sebuah solusi dan pada paraktiknya banyak terjadi mark up (beritanya pernah bikin heboh di koran) sehingga membuat investor takut untuk berinvestasi lagi, karena bukan menjadi investasi pada akhirnya tetapi investasi yang berubah sumbangan dari Investor untuk pengembangannya, untuk contohnya, lihat saja kondisi Busway Blok M - Kota kondisinya yang mulai terlihat kumuh mulai dari mobil hingga shelternya, banyak perangkat yang sudah tidak berfungsi lagi dan tidak terpakai yang menjadi Investasi Sia-Sia.

Untungnya Gubenur yang akan datang adalah orang yang “Ahli” akan Tata Kota, sehingga perencanaan dan pengembangan tata kota skan lebih baik lagi, sehingga mengurangi kemacetan jakarta. Mungkin ada sedikit usul dari saya untuk mengurangi polusi dan kemacetan, tolong dibuatkan bicycle way, seperti yang pernah diusulkan oleh teman-teman Bike To Work, soalnya terus terang saja, saya pernah naik sepeda ke kantor, maksudnya sekalian ikut menyelamatkan lingkungan, tetapi di tengah jalan saya diseruduk motor sampai jatuh padahal saya sudah di sisi paling kiri dan motornya kabur tidak bertanggung jawab (*#%^&%#70#) yang membuat saya berfikir dua kali untuk pergi ke kantor naik sepeda lagi.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.